Monday, November 28, 2011

Bab 2- Bibir yang ku sentuh

Bab 2

Nasib baik dia tidak demam hari itu. Kalau tidak memandangkan dia begitu mahukan kerja itu, sudah pasti dia akan lari meningglkan pejabat Tuan Putra dengan sepantas kilat. Tetapi tidak tahu mengapa, kakinya seakan melekat bilamana Tuan putra menjemputnya untuk duduk di kerusi tamu. Juliana yang lansung tidak mampu menolak, terus melabuhkan punggungnya di sofa buatan italy itu. dia sedikit gementar bila diperhatikan Tuan Putra dengan semyum yang meleret.
“Maafkan saya,” Juliana bersuara gugup.
“Untuk apa?” Tuan Putra sengaja meralit rasa gugup gadis itu.
“Untuk yang tadi...yang sebelum masuk ke sini tadi,” Juliana masih juga bersuara gugup, dan kali ini lebih perlahan dari biasa.
“Ohh...tu tak ada masalah. Jadi, sekarang Cik Juliana dah jumpa saya. Jadi ada apa-apa yang nak Cik Juliana cakapkan?” Tuan Putra sengaja menguji.
“Terima kasih,”
“Haah...apa?” Tuan Putra masih sengaja bergurau.
“Terima kasih kerana terima saya untuk berkerja di syarikat ini,” Juliana lansung tidak mengangkat mukanya. Wajahnya tertumpah ke atas karpet bulu yang ada di tapak kakinya. Lembut....
“Saya harap dengan peluang ini, Cik Juliana akan berusaha bersngguh-sungguh,” Tuan Putra tiba-tiba tegas bersuara. Juliana mengangguk. Gugupnya sedikit hilang.
***
“Tak sangka kau tersangkut dengan tuan punya syarikat...ishh, ishh, ishh...bertuah betul kau ye Juli. Handsome tak?” Nadirah sengaja mengusik. Juliana menjeling tajam ke arah Nadirah yang sudah berbaju tidur. Nadirah melompat ke atas katil, di sebelah Juliana yang masih bermuka masam. Tidak sangka dia akan berhadapan dengan hari yang cukup mencabar pada hari itu. Gempa bumi, lif tersangkut dan paling besar, berhadapan dengan Tuan Putra. Presiden Syarikat Putra Holdings yang baginya sungguh tampan dan bergaya. Dia melentangkan tubuhnya ke atas katil, bayangan wajah Tuan Putra yang tertawa kecil semakin jelas membayangi mindanya. Dia menyapu laju wajahnya dengan kedua tealapak tangan, mahu dibuang bayangan lelaki itu jauh-jauh.
“Tapi kan Juli. Dia kan presiden syarikat. Err...maknanya Tuan Putra ni tua lah?” Nadirah mengandaikan sendiri. Juliana menepuk bahu Nadirah dengan agak kuat, sehingga menyebabkan gadis itu terperanjat. Ada deraian tawa di situ. Tidak sangka, fikiran Nadirah begitu jauh ke depan. Mengandaikan yang bukan-bukan, memanglah perangainya. Dari dulu, sehinggalah sekarang ini, Nadirah memang suka berimaginasi.
“Taklah...Tuan Putra ni bagi aku, macam abang long aku lah...”
“Abang long kau, Abang Nordin...”Juliana mengangguk.
“Tualah tu,” Nadirah tergelak kecil.
“Ish kau ni, abang long aku muda lagi tau. Baru 35 tahun. Kalau tidak, masakan kau selalu melekat di rumah aku masa study dulu, ye tak?” Juliana tergelak besar. Nadirah yang malu mendengarkan statement sahabatnya itu, cuba membela diri. “Itu sebab masakan mak kau sedap,” Nadirah selamba menjawab. “Yalah tu,” Juliana masih tertawa. Tidak tahan melihat wajah sahabatnya yang sudah pucat lesi.
“Aku tak boleh bayanglah,” Nadirah mula merenung siling yang kosong. Cuba membayangkan wajah Tuan Putra yang dikatakan Juliana. Lucu dia melihat telatah sahabatnya itu. mahu diusik lagi, dia tak sanggup.
“Bagi akulah,Tuan Putra tu macam Eizlan Yusuf lah...aku kira...” Juliana pula cuba memadankan wajah dan keterampilan Tuan Putra dengan artis lelaki di kaca tv. Nadirah sementelah memandang Juliana dengan mata yang membulat. Eizlan yusuf, handsome tu, bisiknya di dalam hati.
“Kau biar betul!”
“Betullah ni...”Juliana menguatkan kata-katanya.
“Wahhh, macam tu untunglah kau dapat bos handsome macam, Eizlan Yusuf,”Nadirah tertawa gembira. Juliana yang kembali diusik juga tertawa kecil. Tapi memang benar, pada pandangan matanya, Tuan Putra saling tak tumpah seperti Eizlan Yusuf. Putih, kacak dan mempunyai senyuman yang manis. Dari sebab itulah, matanya tidak lepas dari memandang wajah kacak itu pabila kakinya melangkah keluar dari pejabat pagi tadi. Dia seakan berat mahu meninggalkan pejabat itu, walaupun pada hakikatnya, esok hari dia akan mula bertugas di syarikat itu.
Nadirah yang perasan dengan perubahan sikap Juliana Cuma tersengih. “Eizlan Yusuf, ya,” dia mencubit peha Juliana yang gebu itu. Juliana mengaduh sakit.

2 comments:

  1. kunjungan gan,bagi - bagi motivasi
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT.Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :)

    ReplyDelete
  2. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete